Seekor Ayam Telah Menghancurkan Tuhan-Tuhan Kami!!
“Sudah menjadi kebiasaanku sebelum Islam, setiap kali aku mengunjungi
sebuah kota atau perkampungan, maka tempat pertama yang aku cari dan
aku masuki adalah tempat ibadah seperti gereja dan lain-lain. Hingga
akhirnya aku masuk ke sebuah masjid jami’. Pada saat itu kaum muslimin
sedang melak-sanakan shalat Maghrib. Aku menunggu hingga me-reka selesai
mengerjakan shalat lalu aku menemui imam masjid yang sedang berkumpul
dengan para ja-maah. Kemudian berlangsunglah diskusi dengannya tentang
permasalahanku yang merupakan awal aku masuk ke dalam agama Islam.”
Dari sinilah Abdullah al-Mahdi memulai bercerita tentang
keislamannya, bagaimana ia masuk ke dalam Islam, apa yang
mempengaruhinya hingga ia memeluk agama Islam dan tentang kehidupannya
sebelum masuk Islam. Abdullah al-Mahdi berkata, “Namaku sebelum Islam
Leonardo Viliyar. Aku lahir pada tanggal 4 Desember 1935 di sebuah
keluarga Kristen Katolik. Sewaktu kecil, aku dipelihara oleh kakek dan
nenekku. Mereka mengajariku tentang aliran Katholik yaitu keyakinan
trinitas. Keyakinan bahwa Isa adalah anak Allah dan dialah yang kita
sembah selain Allah. Mereka berdua mengirimku ke sekolah Inggris setelah
berkali-kali aku memintanya. Hanya saja aku tidak menamatkannya,
Alhamdulillah. Waktu itu umurku sekitar 5 tahun dan kepala sekolah pada
awalnya tidak mau menerimaku karena umurku masih terlalu kecil. Tetapi
pada akhirnya ia menerimaku juga setelah ia yakin bahwa pengetahuanku di
atas teman-teman seusiaku.
Suatu kali mereka membiarkan aku tidur siang, sementara pintu rumah
terbuka. Pada saat itu masuk induk ayam bersama anaknya. Aku tersentak
bangun lalu aku ambil handuk untuk mengusir ayam itu ke-luar. Ayam
tersebut terbang ke patung yang biasa kami sembah ketika sembahyang.
Patung tersebut jatuh dan pecah berkeping-keping. Dari sini aku
mengetahui bahwa patung tersebut terbuat dari kayu dan ia bukan Tuhan.
Aku berbicara kepada patung tersebut, “Kamu ini hanyalah kayu bukan
Tuhan sebagaimana yang di yakini oleh nenek moyangku. Kamu tidak dapat
me-nolong dirimu sendiri, bagaimana mungkin kamu dapat menolong orang
lain.” Aku berkeinginan untuk mengancurkannya, namun karena aku masih
kecil dan takut kakekku akan memukulku maka aku kembali meletakkanya di
tempat semula. Aku mulai berfikir tentang perkara ini. Aku juga yakin
bahwa di sana ada Tuhan yang hakiki yang menciptakan segala yang ada.
Pada keesokan harinya aku melihat kakekku sedang duduk, lantas akupun
duduk di sampingnya. Lalu aku bertanya, “Apakah patung ini Tuhan?” Ia
menjawab, “Tidak. Tetapi kami menjadikannya sebagai kiblat pada shalat
kami, seakan-akan kami berada di hadapan Tuhan di saat kami mengerjakan
sembah-yang” Aku terdiam, tidak dapat mengungkapkan apa yang sedang
berkecamuk di dalam jiwaku.”
DISKUSI DENGAN KAKEKKU
Kapan terjadi perubahan dalam hidupmu?
Pada tahun 1943 M, tidak lama sebelum berakhir-nya perang dunia kedua,
aku menemukan buku yang mereka namakan Injil Barnabes (Gospel of
Barnabes). Akupun membaca isinya, di dalamnya ada sebuah ucapan yang
dinisbatkan kepada Nabi Isa AS yang artinya kurang lebih adalah:
“Sesungguhnya Tuhanmu tiada lain adalah Tuhanku, dan Rabbmu adalah
Rabbku.”
Aku merasa heran dengan kalimat tersebut karena bertentangan sama
sekali dengan akidah yang selama ini aku yakini. Seakan-akan aku
kesulitan untuk me-mahaminya. Sementara umurku saat itu baru menginjak 9
tahun, maka aku bertanya kepada kakekku maksud dari kalimat tersebut.
Akan tetapi ia tidak mau men-jawab pertanyaanku, bahkan sibuk mengamati
kitab tersebut kemudian berkata, “Kamu jangan membaca kitab ini, karena
itu akan menyesatkanmu dan men-jadikan kamu bimbang terhadap agamamu.
Dan se-sungguhnya penulis kitab tersebut bukan dari orang Nashrani.”
Aku bertanya, “Apakah ada agama lain selain aga-ma kita?”
“Ya.” Jawab kakekku.
Aku bertanya, “Apakah ada tuhan lain selain tuhan kita?”
“Tidak.” Jawab kakekku.
Aku tanya lagi, “Apakah agama mereka lebih baik dari agama kita?”
Kakekku menjawab, “Tidak, bahkan agama kita lebih baik dari agama mereka dan agama kita adalah yang terbaik dari semua agama.”
Aku bertanya, “Bagaimana kalian mengetahui hal itu?”
Kakekku berkata, “Aku telah mengetahuinya, dan jangan sekali-kali kamu membaca kitab ini.”
Akupun terdiam dan tidak tahu lagi apa yang harus aku ucapkan.
Kemudian aku bertanya kepada nenekku, ibuku, paman-pamanku, tapi jawaban
yang aku dapati sama semua, “Jangan kamu baca kitab ini.”
Aku bertanya pada diriku, “Apa rahasia dalam kitab ini? Kenapa mereka
melarangku membacanya? Apakah mungkin seseorang mengatakan sesuatu
ten-tang agamanya tapi ia berbohong kepada pencipta-nya? Apa yang
terjadi kalau aku baca kitab ini?” Dan pertanyaan lain yang selalu
terlintas dalam benakku.
Akhirnya aku bertekad untuk membaca kitab ini secara sembunyi dalam
kamar. Aku membacanya ber-ulang-ulang dan aku memulainya dengan mencari
agama yang dianut Isa AS.
Pada tahun 1947 M aku tinggalkan bangku seko-lah dan aku tidak lagi
menghadiri acara-acara ritual keagamaan. Lalu Aku pergi ke sebuah rumah
yang dihuni oleh seorang yang sudah tua. Aku memintanya untuk
mengisahkan padaku tentang para nabi yang masyhur di kalangan mereka
seperti Daud, Sulaiman, Ibrahim, Musa, Nuh dan Adam AS, dan aku juga
ber-tanya kepadanya tentang beberapa permasalahan agama.
Ketika ayahku mengetahuiku meninggalkan bang-ku sekolah, ia sangat
marah dan mengancam akan membunuhku. Kemarahannya memuncak saat ia
me-ngetahuiku tidak lagi pergi ke gereja menghadiri sembahyang pada hari
Minggu.
17 TAHUN TANPA LELAH
Akan tetapi, apakah kamu melemah dengan an-caman ayahmu?
Aku tidak berhenti untuk mencari keyakinan, aku mulai berpindah-pindah
dari satu kota ke kota lain-nya, dari satu pulau ke pulau lainnya selama
17 tahun tanpa merasa lelah.
SAAT BERPINDAH AGAMA
Bagaimana kisah di saat ia berpindah agama?
Pada tahun 1963 aku sampai di kota Marawi di pulau Mindanao sebelah
selatan Filipina yang berpen-duduk muslim. Sebagaimana kebiasaanku,
bahwa ketika aku sampai di suatu kota maka tempat pertama yang aku
singgahi adalah tempat peribadatan. Maka aku masuk ke sebuah masjid
jami’. Pada saat itu, kaum muslimin sedang melaksanakan shalat maghrib.
Aku menanti mereka hingga usai. Lantas aku menemui imam masjid dan
orang-orang berkumpul di sekitar kami. Aku bertanya kepada sang imam,
“Pekerjaan apa yang baru saja kalian lakukan?” ia menjawab, “Shalat.”
Aku kembali bertanya, “Apakah ini agama kalian?” Ia jawab, “Benar.” Aku
katakan, “Apa nama agama kalian?” Ia jawab, “Islam.” Aku tanyakan,
“Siapa Tuhan kalian?” Ia jawab, “Allah.” Aku bertanya lagi, “Siapa Nabi
kalian?” Ia menjawab, “Muhammad SAW.”
Aku terdiam, karena tiga kata tersebut baru kali ini aku dengar. Aku
berfikir dan kembali bertanya, “Bagaimana pendapat kalian mengenai
al-Masih?” ia jawab, “Ia adalah Isa bin Maryam AS dan ia adalah nabi
Allah.” Aku katakan, “Apa agamanya?” Ia menjawab, “Islam, karena semua
para nabi beragama Islam.” Karena waktu yang ter-batas aku tidak mungkin
memperpanjang pembica-raan, sementara aku masih asing di kota tersebut.
Lalu aku berkata, “Apakah Kalian punya buku yang mung-kin aku baca?”
lantas ia memberiku tiga buah buku berbahasa Inggris.
I. Buku Dinul Islam (agama Islam) tulisan Ahmad Ghawwasy.
II. Terjemahan makna al-Qur’an tulisan Abdullah Yusuf Ali.
III. Buku kecil tentang akidah.
Kemudian aku keluar dari masjid ke tempat yang aku tuju. Aku mulai
membaca buku tersebut dengan teliti selama sepuluh hari dari awal sampai
akhir, ter-nyata di dalamnya terdapat apa yang aku cari. Pada akhirnya
aku berkeyakinan bahwa sekarang telah aku dapatkan agama yang dianut
oleh Isa AS yang aku cari-cari selama dua puluh tahun.
Dalam buku itu di terangkan mengenai tata cara wudhu’ dan rukun
shalat. Aku kembali membaca buku tersebut dan sekaligus menghafalnya
hingga aku mampu mempraktekkannya. Lalu pada Jum’at pagi tepatnya
tanggal 24 Juni 1963, aku mendatangi rumah sang Imam dan aku bertanya,
“Bolehkah bagi seorang yang bukan muslim untuk memeluk agama Islam?”
jawabnya, “Boleh karena agama Islam bukan hanya untuk kaum muslimin,
tetapi untuk seluruh manusia. Peluklah agama Islam!” Kemudian ia
mengajarkanku tentang bagaimana cara berwudhu’, mengucapkan syahadat dan
tata cara shalat. Setelah aku selesai me-laksanakan shalat, aku
bertanya, “Apakah sekarang aku sudah menjadi seorang muslim?” ia
menjawab, “Benar.”
BELAJAR EMPAT TAHUN
Aku mulai mempelajari agama Islam di sebuah madrasah Islam di kota
itu selama kurang lebih empat tahun. Kemudian aku pergi ke Makkah
Mukarramah pada tahun 1966 belajar di madrasah Shaulatiyah. Pada akhir
tahun 1967 aku berhasil mendapatkan surat izin tinggal untuk pelajar.
Pada tahun 1978 aku diterima belajar di Jami’ah Islamiyah di Madinah
al-Munaw-warah hingga tahun 1979 dan mandapat ijazah dari fakultas
Dakwah dan Ushuluddin. Lalu aku di kirim melalui Darul Ifta’ –sebelum
menjadi departeman- ke wilayah Sabah Malaysia hingga saat ini.
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN, Muhammad bin Shalih al-Qahthani,
seperti yang dinukilnya dari situs Mausu’ah al-Qishash al-Waqi’iyah.
Penerbit DARUL HAQ, Telp.021-4701616)
by :Nurul Nadiah
Tuesday, 12 June 2012
Aku Ucapkan Selamat Datang Kepada kematian, Selamat berjumpa dengan Allah
Pengunjung Terakhir Akan Datang
Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri.!! Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!
Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!
Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu.!!
Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan perantara yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu! Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuannya!
Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu seutuhnya bukan separoh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!! Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS: As-Sajadah: 11)
Dan firman-Nya, yang artinya: “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS: Al-An’am: 61)
Kereta Usia
Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti? Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan ‘kereta usia’ sudah mendekati rute terakhirnya? Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?”
Berhati-hatilah!
Semoga anda tidak termasuk orang yang Alloh subhanahu wata’ala sebutkan, artinya: “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (QS: Muhammad: 27) Atau firman-Nya, yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS: An-Nahl: 28-29)
Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?
Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka’at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?
‘Kontrak’ amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).” Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS: Al-Mu’minun: 99-100)
Persiapkan Dirimu!
Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Alloh Al-Jabbar? Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasululloh shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.” (Muttafaqun ‘alaih)
Berhitunglah Atas Dirimu!
Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.
Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cobaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan memberikan toleransi padamu!
(Sumber Rujukan: Az-Zâ’ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih)
by :Nurul Nadiah
Sungguh! Ia tak datang karena haus akan hartamu, karena ingin ikut nimbrung makan, minum bersamamu, meminta bantuanmu untuk membayar hutangnya, memintamu memberikan rekomendasi kepada seseorang atau untuk memuluskan upaya yang tidak mampu ia lakukan sendiri.!! Pengunjung ini datang untuk misi penting dan terbatas serta dalam masalah terbatas. Kamu dan keluargamu bahkan seluruh penduduk bumi ini tidak akan mampu menolaknya dalam merealisasikan misinya tersebut!
Kalau pun kamu tinggal di istana-istana yang menjulang, berlindung di benteng-benteng yang kokoh dan di menara-menara yang kuat, mendapatkan penjagaan dan pengamanan yang super ketat, kamu tidak dapat mencegahnya masuk untuk menemuimu dan menuntaskan urusannya denganmu!!
Untuk menemuimu, ia tidak butuh pintu masuk, izin, dan membuat perjanjian terlebih dahulu sebelum datang. Ia datang kapan saja waktunya dan dalam kondisi bagaimanapun; dalam kondisimu sedang sibuk ataupun sedang luang, sedang sehat ataupun sedang sakit, semasa kamu masih kaya ataupun sedang dalam kondisi melarat, ketika kamu sedang bepergian atau pun tinggal di tempatmu.!!
Saudaraku! Pengunjungmu ini tidak memiliki hati yang gampang luluh. Ia tidak bisa terpengaruh oleh ucapan-ucapan dan tangismu bahkan oleh jeritanmu dan perantara yang menolongmu. Ia tidak akan memberimu kesempatan untuk mengevaluasi perhitungan-perhitunganmu dan meninjau kembali perkaramu! Kalau pun kamu berusaha memberinya hadiah atau menyogoknya, ia tidak akan menerimanya sebab seluruh hartamu itu tidak berarti apa-apa baginya dan tidak membuatnya mundur dari tujuannya!
Sungguh! Ia hanya menginginkan dirimu saja, bukan orang lain! Ia menginginkanmu seutuhnya bukan separoh badanmu! Ia ingin membinasakanmu! Ia ingin kematian dan mencabut nyawamu! Menghancurkan raga dan mematikan tubuhmu! Dia lah malaikat maut!!! Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “Katakanlah, ‘Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS: As-Sajadah: 11)
Dan firman-Nya, yang artinya: “Sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS: Al-An’am: 61)
Kereta Usia
Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut merupakan sesuatu yang pasti? Tahukah kamu bahwa kita semua akan menjadi musafir ke tempat ini? Sang musafir hampir mencapai tujuannya dan mengekang kendaraannya untuk berhenti? Tahukah kamu bahwa perputaran kehidupan hampir akan terhenti dan ‘kereta usia’ sudah mendekati rute terakhirnya? Sebagian orang shalih mendengar tangisan seseorang atas kematian temannya, lalu ia berkata dalam hatinya, “Aneh, kenapa ada kaum yang akan menjadi musafir menangisi musafir lain yang sudah sampai ke tempat tinggalnya?”
Berhati-hatilah!
Semoga anda tidak termasuk orang yang Alloh subhanahu wata’ala sebutkan, artinya: “Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Malaikat (Maut) mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?” (QS: Muhammad: 27) Atau firman-Nya, yang artinya: “(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zhalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata), ‘Kami sekali-kali tidak ada mengerjakan sesuatu kejahatan pun.” (Malaikat menjawab), “Ada, sesungguh-nya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan. “Maka masuklah ke pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombong-kan diri itu.” (QS: An-Nahl: 28-29)
Tahukah kamu bahwa kunjungan Malaikat Maut kepadamu akan mengakhiri hidupmu? Menyudahi aktivitasmu? Dan menutup lembaran-lembaran amalmu?
Tahukah kamu, setelah kunjungan-nya itu kamu tidak akan dapat lagi melakukan satu kebaikan pun? Tidak dapat melakukan shalat dua raka’at? Tidak dapat membaca satu ayat pun dari kitab-Nya? Tidak dapat bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, beristighfar walau pun sekali? Tidak dapat berpuasa sehari? Bersedekah dengan sesuatu meskipun sedikit? Tidak dapat melakukan haji dan umrah? Tidak dapat berbuat baik kepada kerabat atau pun tetangga?
‘Kontrak’ amalmu sudah berakhir dan engkau hanya menunggu perhitungan dan pembalasan atas kebaikan atau keburukanmu!!
Alloh subhanahu wata’ala berfirman, yang artinya: “(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikan lah aku (ke dunia).” Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguh-nya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS: Al-Mu’minun: 99-100)
Persiapkan Dirimu!
Mana persiapanmu untuk menemui Malaikat Maut? Mana persiapanmu menyongsong huru-hara setelahnya; di alam kubur ketika menghadapi pertanyaan, ketika di Padang Mahsyar, ketika hari Hisab, ketika ditimbang, ketika diperlihatkan lembaran amal kebaikan, ketika melintasi Shirath dan berdiri di hadapan Alloh Al-Jabbar? Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasululloh shallallahu ‘alihi wasallam bersabda, yang artinya: “Tidak seorang pun dari kamu melainkan akan diajak bicara oleh Allah pada hari Kiamat, tidak ada penerjemah antara dirinya dan Dia, lalu ia memandang yang lebih beruntung darinya, maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah diberikannya dan memandang yang lebih sial darinya, maka ia tidak melihat selain apa yang telah diberikannya. Lalu memandang di hadapannya, maka ia tidak melihat selain neraka yang berada di hadapan mukanya. Karena itu, takutlah api neraka walau pun dengan sebelah biji kurma dan walau pun dengan ucapan yang baik.” (Muttafaqun ‘alaih)
Berhitunglah Atas Dirimu!
Saudaraku, berhitunglah atas dirimu di saat senggangmu, berpikirlah betapa cepat akan berakhirnya masa hidupmu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di masa luangmu untuk masa sulit dan kebutuhanmu, renungkanlah sebelum melakukan suatu pekerjaan yang kelak akan didiktekan di lembaran amalmu.
Di mana harta benda yang telah kau kumpulkan? Apakah ia dapat menyelamatkanmu dari cobaan dan huru-hara itu? Sungguh, tidak! Kamu akan meninggalkannya untuk orang yang tidak pernah menyanjungmu dan maju dengan membawa dosa kepada Yang tidak akan memberikan toleransi padamu!
(Sumber Rujukan: Az-Zâ’ir Al-Akhîr karya Khalid bin Abu Shalih)
by :Nurul Nadiah
Sajak Asap
Asap,
memedihkan mataku
menangis - tanpa sebab?
Asap,
dan aku tenggelam lemas
tanpa airnya?
mengapakah
bisamumemedihkan mataku
menangis - tanpa sebab?
Asap,
mengapakah
rongga-ronggamu
semakin lama semakin
membesardan aku tenggelam lemas
tanpa airnya?
Asap,
hanya satu jantungku ini
telah kaurampas
berjuta-juta yang lain
tua dan muda
tanpa belas.
Asap.
tidak dapat kurasai
dengan sentuhan
tetapi bahangmu cukup
memusnahkan segala
tanpa apinya .
Sumber : Maya Iza Azizan
By :Nur Amirah
Sajak Lebah Dan Madu
Di pohon sana
pada dahan pohon tualang
lihatlah lebah-lebah
sudah membuat sarang
serangga yang cergas
sentiasa hidup sepakat
sikap yang terpuji.
Ada ratu ada pekerja
berkumpul dan bekerjasama
madu manisnya penawar penyakit manusia
.Lebah-lebah
harus selalu berusaha
dan meninggalkan jasa
eperti madumu yang istimewa.
Sumber : Siti Zaleha M. Hashim
pada dahan pohon tualang
lihatlah lebah-lebah
sudah membuat sarang
serangga yang cergas
sentiasa hidup sepakat
sikap yang terpuji.
Ada ratu ada pekerja
berkumpul dan bekerjasama
madu manisnya penawar penyakit manusia
.Lebah-lebah
pada dahan pohon
tualang
kau membuat aku
sedarharus selalu berusaha
dan meninggalkan jasa
eperti madumu yang istimewa.
Sumber : Siti Zaleha M. Hashim
By : Nur Amirah
Sajak Hari Akhir Persekolahan
Ada suara hati
yang tersisip
dicelah buku - buku
ada mata batin
yang mengintip
pesan para guru
ada air jernih
yang tumpah
dalan dakapan perpisahan
ada tangan nakal
yang mengukir;
merdeka , kita ke takah dewasa
Sumber : Ahmad Baktiar Abdul Mutalib
By : Nur Amirah
Sajak Jangan
Jangan bawa pergi anakku!
pembalut luka dan penghibur lara
satu-satunya pujaan hati
Jangan kaubawa lari anakku
Kerana tidak boleh berpisah
antara aku dengannya
hidupku dan selalu menjadi mata hatiku
pilu terasa, rapat dada
bila cinta anakku kau pisah suka
sakit diri, perih terasa
akan lupa apa saja dibuatnya
cinta ayah pada anak
mungkin lebih dari cinta ibunya.
Jangan bawa pergi anakku!
Akan kucari di mana pun dia kini.
Sumber : Sulastri Abadi
By :Nur Amirah
Aku masih mencintai
anakku!
Permata hati belahan
jiwapembalut luka dan penghibur lara
satu-satunya pujaan hati
Jangan kaubawa lari anakku
Kerana tidak boleh berpisah
antara aku dengannya
hidupku dan selalu menjadi mata hatiku
pilu terasa, rapat dada
bila cinta anakku kau pisah suka
sakit diri, perih terasa
akan lupa apa saja dibuatnya
cinta ayah pada anak
mungkin lebih dari cinta ibunya.
Jangan bawa pergi anakku!
Akan kucari di mana pun dia kini.
Sumber : Sulastri Abadi
By :Nur Amirah
Kawan Makan Kawan Lyrics
Sudah lama kumengenalinya
Dan daku menganggap dialah saudara
Walaupun apa saja yang aku mampu
Aku membantunya apa yang perlu
Sehingga daku tersisih
Berbalah dengan kekasih
Kau kata teman sejati
Lebih sukar dicari
Memang benar orng berkata
Harus awas dan waspada
Pada yang manis dibibir
Aku tersingkir
Dan daku menganggap dialah saudara
Walaupun apa saja yang aku mampu
Aku membantunya apa yang perlu
Sehingga daku tersisih
Berbalah dengan kekasih
Kau kata teman sejati
Lebih sukar dicari
Memang benar orng berkata
Harus awas dan waspada
Pada yang manis dibibir
Aku tersingkir
( korus )
Kawan yang ku benar harap-harapkan
Bukan jujur seperti yang kusangkakan
Kawan kini makan kawan
Ku dalam keadaan teraniaya
Kawan makan kawan
Kawan yang ku benar harap-harapkan
Bukan jujur seperti yang kusangkakan
Kawan kini makan kawan
Ku dalam keadaan teraniaya
Kawan makan kawan
Kini hilang segala yang ku ada
Ku hilang harta, cinta, maruah, muka
[ Kawan Makan Kawan lyrics found on http://lyrics.my ]
Kau racunkan fikiranku dan nya
Kau ambil kesempatan merapatinya
Sehingga daku tersisih
Berbalah dengan kekasih
Kau kata teman sejati lebih sukar dicari
Memang benar orang berkata
Harus awas dan waspada
Pada yang manis di bibir
Aku tersingkir
Ku hilang harta, cinta, maruah, muka
[ Kawan Makan Kawan lyrics found on http://lyrics.my ]
Kau racunkan fikiranku dan nya
Kau ambil kesempatan merapatinya
Sehingga daku tersisih
Berbalah dengan kekasih
Kau kata teman sejati lebih sukar dicari
Memang benar orang berkata
Harus awas dan waspada
Pada yang manis di bibir
Aku tersingkir
Aku dah terkena dengan hasutannya
Dan rupa-rupanya ada agendanya
Kekasih ku pergi kerna batu api
Kawan ku sendiri membakar ku ini
Dan rupa-rupanya ada agendanya
Kekasih ku pergi kerna batu api
Kawan ku sendiri membakar ku ini
Setelah ku berikan kepercayaan
Tak terlintas di fikiran kau buat bukan-bukan
Semua tipu helah tak akan terjadi lagi
Tanyalah diri apa yang sudah jadi
Kini kau tahu bagaimana kurasa
Menahan peritnya bisa
Semua ini tidak kuduga
Kawan makan kawan
Tak terlintas di fikiran kau buat bukan-bukan
Semua tipu helah tak akan terjadi lagi
Tanyalah diri apa yang sudah jadi
Kini kau tahu bagaimana kurasa
Menahan peritnya bisa
Semua ini tidak kuduga
Kawan makan kawan
by:Tengku Ariza Ezzati
Subscribe to:
Posts (Atom)